Pahlawan Nasional Asal Papua
Kurang lebih 54 tahun silam, Papua Barat secara
resmi kembali kepangkuan NKRI setelah lama berada di bawah kekuasaan kolonial
Belanda. Sayangnya masih ada segelintir orang Papua yang mempermasalahkan
integrasi Papua ke dalam NKRI. Adanya tuntutan pemisahan oleh gerakan sparatis
dengan berbagai tipu daya, provokasi-provokasi, intimidasi, memutar balikkan
fakta, isu pelanggaran HAM, Geosida dan lain-lain yang dilakukan oleh para pendukung
KNPB pada dasarnya tidak mewakili keinginan seluruh masyarakat Papua melainkan
untuk keuntungan kelompok kecil bahkan pribadi dari elite Politiknya. Integrasi
Papua ke wilayah Indonesia adalah sah karena telah disetujui oleh rakyat Papua
sendiri dan juga oleh PBB.
Berbagai isu terus di gembor-gemborkan oleh para
pendukung KNPB, salah satunya bahwa tidak ada Pahlawan Nasional Indonesia yang
ikut dalam memperjuangkan Kemerdekaan NKRI, ini adalah pembohongan publik dan
menciderai perasaan para keluarga pejuang Asal Papua karena faktanya sudah
banyak para pahlawan asal Papua yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan
Negeri ini baik yang tercatat ataupun tidak tercatat yang pasti mereka telah berkorban
harta benda bahkan nyawa.
Papua dalam Kongres Pemuda
Kongres Pemuda II diadakan di Batavia (sekarang
Jakarta) pada tanggal 28 Oktober 1928. Kongres Pemuda I diadakan pada tahun
1926. Kongres Pemuda adalah kongres yang diadakan para pemuda dan dihadiri oleh
para pemuda dari berbagai penjuru Hindia Belanda. Kongres tersebut bertujuan agar
seluruh pemuda Indonesia bersatu padu mewujudkan Indonesia merdeka sehingga
dihasilkanlah Sumpah Pemuda. Dalam Kongres Pemuda II inilah untuk pertama
kalinya lagu Indonesia Raya diperkenalkan oleh Wage Rudolph
Soepratman yang kelak menjadi lagu kebangsaan Indonesia.
Ada banyak orang Indonesia, terutama mereka yang
berasal dari masyarakat asli Papua sendiri, yang tidak mengetahui bahwa ada
beberapa pemuda Papua ikut hadir dan menjadi saksi peristiwa bersejarah
tersebut. Kurangnya penelusuran sejarah mengakibatkan banyak orang Indonesia khususnnya
masyarakat Papua sendiri tidak dapat mengetahui secara rinci siapa saja yang
hadir dalam kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda tersebut. Maka dari itu, hal
ini dapat dipakai oleh KNPB untuk menyebarkan kebohongan bahwa tidak ada wakil
dari Papua dalam peristiwa Sumpah Pemuda.
Ramses Ohee
Ramses Ohee, ketua adat Tobati-Enggros sekaligus ketua
Barisan Merah Putih, pernah mengakui bahwa orang tuanya, Poreu Ohee dan Orpa
Pallo, pernah turut menjadi wakil Papua dalam Kongres Pemuda tahun 1928 walau
mereka tergabung dalam organisasi Jong Ambon. Berarti dapat disimpulkan
bahwa dahulu orang-orang Papua pernah sepakat untuk berikrar bertumpah darah
satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung
tinggi bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia. Masyarakat Papua telah lama
menggunakan bahasa Melayu yang kelak menjadi bahasa Indonesia bukan sejak resmi
bergabung dengan Indonesia.
Pahlawan Indonesia dari Papua
Marthen Indey
Salah satunya adalah Marthen Indey. Marthen Indey
adalah mantan anggota polisi Belanda. Putra Papua kelahiran 14 Maret 1912 di
Doromena, Hollandia (sekarang Jayapura), ini pernah ditugaskan untuk mengawasi
para pejuang kemerdekaan Indonesia yang dibuang ke Digul. Dari sanalah muncul
rasa nasionalisme Marthen Indey. Bersama 30 orang teman, ia merencanakan
penangkapan aparat keamanan Belanda. Sayangnya rencana ini tercium oleh
pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya ia pun dipindah tugaskan ke daerah
terpencil di hulu Sungai Digul. Ketika tentara Jepang berhasil menduduki Hindia
Belanda saat Perang Dunia II, Marthen Indey ikut pergi bersama pemerintahan
pengasingan Hindia Belanda menuju Australia. Pada tahun 1944, ia kembali ke
tanah air bersamaan dengan datangnya pasukan Sekutu. Bulan Oktober 1946,
Marthen Indey menghubungi para tokoh Maluku yang pro kemerdekaan. Karena sering
berkomunikasi dengan kelompok pro RI di Ambon, ia ditangkap dan dipenjara oleh
pemerintah kolonial Belanda. Semangatnya tak pernah padam. Bulan Januari 1962
ketika Operasi TRIKORA dilancarkan, Marthen Indey menyusun kekuatan gerilya
serta membantu penyelamatan anggota-anggota TNI yang dulu masih bernama ABRI
yang diterjunkan untuk membebaskan Papua Barat. Ia diangkat sebagai anggota
MPRS terhitung dari tahun 1963 hingga 1968 setelah Papua Barat resmi bergabung
ke dalam wilayah Indonesia. Marthen Indey meninggal dunia pada tanggal 17 Juli
1986 di usia 74 tahun.
Silas Ayari Donrai Papare
Silas Ayari Donrai Papare, seorang mantan pegawai
pemerintah kolonial Belanda asal Serui, Kepulauan Yapen, ikut memerjuangkan
kemerdekaan Papua dengan gigih hingga ia dipenjara di Hollandia
karena memengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak. Di dalam penjara, pria
kelahiran 18 Desember 1918 ini bertemu Dr. Sam Ratulangi dan dari sana ia
berkeyakinan bahwa Papua adalah bagian dari bangsa Indonesia. Setelah
dibebaskan dari penjara di Hollandia, ia bersama seorang putra Papua berdarah
Tionghoa, Yakop Thung Tjing Ek, membentuk PKII (Partai Kemerdekaan Indonesia
Irian) pada tahun 1946. Ketika dikejar oleh aparat keamanan Belanda, ia bersama
keluarganya meninggalkan Serui, kota kelahirannya, menuju Yogyakarta. Di
Yogyakarta, Silas Papare tetap aktif memerjuangkan pembebasan Papua dengan
mendirikan Badan Perjuangan Irian. Ia akhirnya diangkat oleh Presiden Soekarno
menjadi anggota MPRS. Di depan sidang MPRS bulan Maret 1967, Silas Papare
berpidato : "Kami orang-orang Papua hanya menghendaki kehidupan
yang lebih baik." Hal ini menunjukkan keyakinan kuat Silas Papare
bahwa Papua adalah bagian sah dari Republik Indonesia. Silas Papare
menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 7 Maret 1978. Kutipannya yang
terkenal adalah "Jangan sanjung aku tetapi teruskanlah
perjuanganku.
Kedua pahlawan Indonesia di atas bersama dengan Frans Kaisiepo dan Johannes Abraham Dimara yang juga merupakan putra asli Papua memeroleh penghargaan gelar Pahlawan Nasional. Marthen Indey, Silas Papare, dan Frans Kaisiepo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 14 September 1993 oleh Presiden Soeharto sedangkan J. A. Dimara baru ditetapkan pada tanggal 11 November 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak hanya mereka berempat, masih ada banyak pejuang asal Papua yang memerjuangkan penyatuan Papua ke dalam NKRI seperti Lukas Rumkorem, Stevanus Rumbewas, Petrus Wattebossy, serta Petero Jandi yang dihukum mati oleh pemerintah kolonial Belanda, dan masih banyak yang lainnya yang gugur tanpa pusara.




