Menu

Rabu, 01 Februari 2017

DUKUNGAN LSM GEREJA ASAL AUSTRALIA DIBALIK GERAKAN OPM


Adanya segala upaya OPM khususnya dari kalangan elite Politik untuk memisahkan Papua dari dari Indonesia terprovokasi aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) gereja asal Australia, Mereka mengompori agar segera mengambil sikap, Bahkan kini kembali memunculkan petisi menyangkut Referendum Tanah Papua.
Adanya campur tangan asing ini tidak terlepas dari kisah masa silam dimana kebijakan Australia yang cenderung bersifat ganda terhadap Inonesia pada Tahun 1950.   Australia mendukung Kemerdekaan dan integritas Indonesia dari Sabang sampai Merauke namun juga mendukung kebijakan Belanda untuk tetap menguasai Papua. Kebijakan ini kemudian berubah dengan ditujukkan oleh dukungan Australia terhadap integrasi indonesia sesuai dengan Perjanjian New York pada awal tahun 1960an setelah adanya tekanan dari Pemerintah AS.

Desakan Pemerintah AS tersebut didasari oleh kebijakan penangkalan paham Komunis ke wilayah Asia Tenggara, sejak saat itu Australia tidak banyak lagi ikut campur dalam urusan politik yang berkaitan dengan Papua,  akan tetapi Pemerintah Indonesia sendiri masih mencurigai keterlibatan Australia dibelakang gerakan OPM, kecurigaan ini dibuktikan dengan ditangkapnya warga negara Australia yang membawa dokumen khusus mengenai OPM pada tahun 2000 silam, Pemerintah Indonesia juga mencurigai beberapa warga negara Australia yang berada di Papua sebagai anggota LSM dengan dalih kemanusiaan padahal justeru memperkeruh kondisi konflik di Papua.       Isu Genosida di Papua dijadikan alat guna mencari dukungan dan simpatik baik di dalam Negeri maupun Dunia Internasional dan tidak mengakui hasil PAPERA tahun 1969 dan menuntut dilaksanakannya Referendum di Papua.

Segala upaya yang dilakukan LSM asal Australia adalah suatu kebohongan bila mengatakan yang mereka lalukan atas dasar kemanusiaan apalagi mengembangkan isu Genosida karena saat ini kondisi di Papua sendiri dalam keadaan damai dan masyarakat hidup rukun dengan keanekaragaman antar suku, budaya dan agama serta sedang gencar-gencarnya membangun sesuai dengan kebijakan baik Pemerintah Pusat maupun daerah justeru dari OPM lah yang belakangan ini menebar ancaman dan ketakutan bagi masyarakat yang tidak mendukung pergerakan mereka.  

Bila dilihat dari sejarah Australia sendiri, seharusnya LSM Gereja asal Australia tersebut tidak mencampuri urusan bangsa lain karena justeru di Australia lah pelanggaran kemanusiaan itu pernah terjadi.          Seperti dikutip dari media Online new.detik.com tanggal 30 Januari 2017 bahwa Komunitas pribumi di pulau Palm Island Queensland, Australia, akan tampil dalam dokumenter sejarah mengenai salah satu aspek kolonisasi yang tak banyak diketahui. Dokumenter tersebut membuka kisah orang Aborigin yang dipertontonkan bersama binatang antara abad 19 dan awal abad 20.

Sekitar 20 orang Aborigin diambil paksa dari Australia Utara saat itu untuk dipamerkan bersama binatang dalam apa yang disebut sebagai Human Zoo.    Bersama ribuan orang Aborigin lainnya, mereka dipajang berkeliling Eropa dan Amerika setidaknya sampai tahun 1940.

Saat ini komunitas Palm Island telah mendapatkan kembali sisa-sisa tengkorak salah seorang nenek moyang mereka itu.
Tetua masyarakat setempat, Walter Palm Island, merasa sangat istimewa melihat sisa-sisa nenek moyang, yang ditemukan di Amerika Utara, kembali ke kampung sendiri.

"Silsilah ayah saya menunjukkan ada seorang paman meninggal di sirkus di Amerika... rasanya seperti teka-teki untuk memahami semua ini," katanya.
"Melihat foto dan gambar para leluhur ini, saya bisa merasakan sakit dan penderitaan dari ekspresi wajah mereka. Dan bagaimana terhinanya mereka," ujar Walter.

"Mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan diri mereka sebagai manusia. Mereka diperlakukan sebagai binatang," tambahnya.

Leluhur Walter meninggal di akhir abad ke-19 - dia salah satu dari sekitar 35.000 orang yang dipamerkan di kebun binatang antara tahun 1800-an dan Perang Dunia II.

"Mereka ditampilkan sebagai kanibal. Pemakan manusia. Missing link antara manusia dengan monyet. Untuk penonton yang mencari eksotisme dan sensasi dari sesuatu yang tak diketahui," katanya.

Kini seorang sinematografer Australia, Philip Rang, mengerjakan film dokumenter yang melacak kisah orang-orang Aborigin tersebut. Dia baru saja kembali dari syuting di Palm Island.

Dia mengatakan ada sekitar 20 orang Aborigin diambil dari Palm Island dan Ingham di Queensland utara.

"Benar-benar menakjubkan, betapa sedikit yang diketahui tentang hal ini," kata Rang. "Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka dibujuk, katakanlah oleh orang kulit putih yang culas."

"Pertama mereka dikumpulkan di Townsville lalu dibawa ke Sydney. Supaya mereka tidak akan melarikan diri, pakaian mereka dilucuti lalu dinaikkan ke perahu," tuturnya.

Seorang anak Aborigin yang merupakan bagian dari 20 warga Aborigin dari Australia Utara yang dijadikan penghuni kebun binatang dan dibawa keliling Eropa dan Amerika. (Foto Kiriman: The Human Zoo)

Bukan film politik

Kebun binatang Human Zoo itu memamerkan orang-orang dari Afrika, Pasifik dan Asia.

Menurut Rang, hal itu merupakan pembenaran untuk kolonisasi.
"Mereka dibawa ke tempat-tempat yang jauh dan bilang, lihat apa yang kami temukan. Kami bukan cuma menemukan rempah-rempah, bumbu dan bahan baku, tapi juga menemukan orang-orang ini," katanya.

Salah satu sutradara dokumenter tersebut, Bruno Victor-Pujebet, berharap film ini akan mencegah pengulangan sejarah.

"Kami memiliki banyak gambar, foto dan film-film lama. Perlu memberikan konteks sejarah kepada publik," katanya.

"Itu merupakan cara membenarkan dominasi dunia. Orang-orang ini adalah korban dari hal itu. Kita tidak ingin membuat film politik, kami hanya ingin memberikan fakta dan menceritakan kisah mereka yang benar-benar terlupakan," jelas Victor-Pujebet.

Bagi Walter Palm Island, film dokumenter ini merupakan kesempatan bagi warganya membangun semacam identitas yang lebih besar.

"Sejarah Aborigin Australia belum tersampaikan. Begitu pula nasib masyarakat pribumi Australia dan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka," katanya.

Film dokumenter The Human Zoo akan ditayangkan pertama kali di Prancis pada Juni 2017 mendatang.


Jadi sudah jelas, dukungan LSM Gereja asal Australia bukan atas dasar kepentingan kemanusiaan, melainkan ada kepentingan lain karena cenderung memilih ikut campur urusan Bangsa lain dibanding Negaranya sendiri terkait suku Aborigin.   Tidak ada Genosida terjadi di Papua, tidak ada perlakuan seperti binatang terhadap masyarakat asal Papua seperti yang di gembor-gemborkan OPM dan LSM asal Australia tersebut.    OAP bebas hidup diberbagai pulau dan daerah di Indonesia tanpa ada sikap diskriminasi dari masyarakat daerah lain apalagi perlakuan seperti di Australia pada masa lalu bahkan banyak OAP yang jadi pejabat dan menduduki jabatan di Instansi Pemerintah.

Sumber : https://news.detik.com/internasional/d-3409397/membuka-kisah-aborigin-yang-diperlakukan-sebagai-hewan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kontributor