Adanya segala upaya OPM khususnya dari kalangan elite
Politik untuk memisahkan Papua dari dari Indonesia terprovokasi aktivis lembaga
swadaya masyarakat (LSM) gereja asal Australia, Mereka mengompori agar segera
mengambil sikap, Bahkan kini kembali memunculkan petisi menyangkut Referendum
Tanah Papua.
Adanya campur tangan asing
ini tidak terlepas dari kisah masa silam dimana kebijakan
Australia yang cenderung bersifat ganda terhadap Inonesia pada Tahun 1950. Australia mendukung Kemerdekaan dan
integritas Indonesia dari Sabang sampai Merauke namun juga mendukung kebijakan
Belanda untuk tetap menguasai Papua. Kebijakan ini kemudian berubah dengan
ditujukkan oleh dukungan Australia terhadap integrasi indonesia sesuai dengan
Perjanjian New York pada awal tahun 1960an setelah adanya tekanan dari
Pemerintah AS.
Desakan Pemerintah AS tersebut didasari oleh kebijakan
penangkalan paham Komunis ke wilayah Asia Tenggara, sejak saat itu Australia
tidak banyak lagi ikut campur dalam urusan politik yang berkaitan dengan Papua,
akan tetapi Pemerintah Indonesia sendiri
masih mencurigai keterlibatan Australia dibelakang gerakan OPM, kecurigaan ini
dibuktikan dengan ditangkapnya warga negara Australia yang membawa dokumen
khusus mengenai OPM pada tahun 2000 silam, Pemerintah Indonesia juga mencurigai
beberapa warga negara Australia yang berada di Papua sebagai anggota LSM dengan
dalih kemanusiaan padahal justeru memperkeruh kondisi konflik di Papua. Isu Genosida di Papua dijadikan alat guna mencari dukungan dan simpatik
baik di dalam Negeri maupun Dunia Internasional dan tidak mengakui hasil PAPERA
tahun 1969 dan menuntut dilaksanakannya Referendum di Papua.
Segala upaya yang dilakukan
LSM asal Australia adalah suatu kebohongan bila mengatakan yang mereka lalukan atas
dasar kemanusiaan apalagi mengembangkan isu Genosida karena saat ini kondisi di
Papua sendiri dalam keadaan damai dan masyarakat hidup rukun dengan
keanekaragaman antar suku, budaya dan agama serta sedang gencar-gencarnya
membangun sesuai dengan kebijakan baik Pemerintah Pusat maupun daerah justeru dari
OPM lah yang belakangan ini menebar ancaman dan ketakutan bagi masyarakat yang
tidak mendukung pergerakan mereka.
Bila dilihat dari sejarah Australia
sendiri, seharusnya LSM Gereja asal Australia tersebut tidak mencampuri urusan
bangsa lain karena justeru di Australia lah pelanggaran kemanusiaan itu pernah
terjadi. Seperti dikutip dari
media Online new.detik.com tanggal 30 Januari 2017 bahwa Komunitas
pribumi di pulau Palm Island Queensland, Australia, akan tampil dalam
dokumenter sejarah mengenai salah satu aspek kolonisasi yang tak banyak
diketahui. Dokumenter tersebut membuka kisah orang Aborigin yang dipertontonkan
bersama binatang antara abad 19 dan awal abad 20.
Sekitar 20 orang
Aborigin diambil paksa dari Australia Utara saat itu untuk dipamerkan bersama
binatang dalam apa yang disebut sebagai Human Zoo. Bersama ribuan orang Aborigin lainnya, mereka dipajang
berkeliling Eropa dan Amerika setidaknya sampai tahun 1940.
Saat ini komunitas
Palm Island telah mendapatkan kembali sisa-sisa tengkorak salah seorang nenek
moyang mereka itu.
Tetua masyarakat
setempat, Walter Palm Island, merasa sangat istimewa melihat sisa-sisa nenek
moyang, yang ditemukan di Amerika Utara, kembali ke kampung sendiri.
"Silsilah ayah
saya menunjukkan ada seorang paman meninggal di sirkus di Amerika... rasanya
seperti teka-teki untuk memahami semua ini," katanya.
"Melihat foto
dan gambar para leluhur ini, saya bisa merasakan sakit dan penderitaan dari
ekspresi wajah mereka. Dan bagaimana terhinanya mereka," ujar Walter.
"Mereka
kehilangan harga diri dan kepercayaan diri mereka sebagai manusia. Mereka
diperlakukan sebagai binatang," tambahnya.
Leluhur Walter
meninggal di akhir abad ke-19 - dia salah satu dari sekitar 35.000 orang yang
dipamerkan di kebun binatang antara tahun 1800-an dan Perang Dunia II.
"Mereka ditampilkan
sebagai kanibal. Pemakan manusia. Missing link antara manusia dengan monyet.
Untuk penonton yang mencari eksotisme dan sensasi dari sesuatu yang tak
diketahui," katanya.
Kini seorang
sinematografer Australia, Philip Rang, mengerjakan film dokumenter yang melacak
kisah orang-orang Aborigin tersebut. Dia baru saja kembali dari syuting di Palm
Island.
Dia mengatakan ada
sekitar 20 orang Aborigin diambil dari Palm Island dan Ingham di Queensland
utara.
"Benar-benar
menakjubkan, betapa sedikit yang diketahui tentang hal ini," kata Rang.
"Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka dibujuk, katakanlah oleh orang
kulit putih yang culas."
"Pertama mereka
dikumpulkan di Townsville lalu dibawa ke Sydney. Supaya mereka tidak akan
melarikan diri, pakaian mereka dilucuti lalu dinaikkan ke perahu,"
tuturnya.
Seorang anak Aborigin yang merupakan bagian dari 20
warga Aborigin dari Australia Utara yang dijadikan penghuni kebun binatang dan
dibawa keliling Eropa dan Amerika. (Foto Kiriman: The Human Zoo)
Bukan film politik
Bukan film politik
Kebun binatang Human
Zoo itu memamerkan orang-orang dari Afrika, Pasifik dan Asia.
Menurut Rang, hal itu
merupakan pembenaran untuk kolonisasi.
"Mereka dibawa
ke tempat-tempat yang jauh dan bilang, lihat apa yang kami temukan. Kami bukan
cuma menemukan rempah-rempah, bumbu dan bahan baku, tapi juga menemukan
orang-orang ini," katanya.
Salah satu sutradara
dokumenter tersebut, Bruno Victor-Pujebet, berharap film ini akan mencegah
pengulangan sejarah.
"Kami memiliki
banyak gambar, foto dan film-film lama. Perlu memberikan konteks sejarah kepada
publik," katanya.
"Itu merupakan
cara membenarkan dominasi dunia. Orang-orang ini adalah korban dari hal itu.
Kita tidak ingin membuat film politik, kami hanya ingin memberikan fakta dan
menceritakan kisah mereka yang benar-benar terlupakan," jelas
Victor-Pujebet.
Bagi Walter Palm
Island, film dokumenter ini merupakan kesempatan bagi warganya membangun
semacam identitas yang lebih besar.
"Sejarah
Aborigin Australia belum tersampaikan. Begitu pula nasib masyarakat pribumi
Australia dan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka," katanya.
Film dokumenter The
Human Zoo akan ditayangkan pertama kali di Prancis pada Juni 2017 mendatang.
Jadi sudah jelas, dukungan
LSM Gereja asal Australia bukan atas dasar kepentingan kemanusiaan, melainkan
ada kepentingan lain karena cenderung memilih ikut campur urusan Bangsa lain
dibanding Negaranya sendiri terkait suku Aborigin. Tidak ada Genosida
terjadi di Papua, tidak ada perlakuan seperti binatang terhadap masyarakat asal
Papua seperti yang di gembor-gemborkan OPM dan LSM asal Australia
tersebut. OAP bebas hidup diberbagai
pulau dan daerah di Indonesia tanpa ada sikap diskriminasi dari masyarakat
daerah lain apalagi perlakuan seperti di Australia pada masa lalu bahkan banyak
OAP yang jadi pejabat dan menduduki jabatan di Instansi Pemerintah.
Sumber : https://news.detik.com/internasional/d-3409397/membuka-kisah-aborigin-yang-diperlakukan-sebagai-hewan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar