Timor Leste adalah negara baru, yang
berdaulat tahun 2000 lalu setelah melepaskan diri dari NKRI lewat jejak
pendapat di tahun 1999. Sedikit banyak, hal inilah yang memotivasi OPM lewat para
aktivis Politiknya untuk terus memerangi kebijakan-kebijakan Pemerintah Indonesia
yang sedang giat-giatnya membangun demi kemajuan Papua. Dengan berbagai cara
terus dilakukan oleh OPM baik isu dan porpaganda lewat KNPB ataupun intimidasi dan
ancaman keamanan yang dilakukan TPNOPM.
OPM tidak menyadari, Papua berbeda dengan
Timor Leste. Timor Leste adalah jajahan Portugal (Portugis), sedangkan Papua
adalah jajahan Belanda seperti halnya daerah-daerah lain wilayah Indonesia,
Papua tidak pernah diinvasi atau dikoloni oleh Indonesia tetapi korban kolonial
Belanda seperti halnya daerah-daerah lain wilayah Indonesia, Timor Leste yang
dulu bernama Timor Timur bergabung (integrasi) kedalam wilayah kedaulatan NKRI
sebagian besar masyarakat dunia menentangnya, sementara integrasi Papua menjadi
bagian RI melalui proses diplomasi dan sudah disahkan oleh PBB hasil Papera
tahun 1969.
Banyaknya kecaman dan kutukan Dunia
Internasional khususnya negara-negara Asia-Afrika kepada Belanda akhirnya pada
1962 Belanda mengupayakan perjanjian yang dilaksanakan di PBB dan akhirnya disepakati
untuk "MENGEMBALIKAN"
Papua di bawah Indonesia, namun menurut persetujuan PBB, masa depan Papua harus
ditentukan melalui pendapat penduduknya akhirnya diselenggarakanlah PEPERA
(Penentuan Pendapat Rakyat) pada tahun 1969 oleh sebuah badan netral (UNTEA)
dibawah pengawasan langsung PBB. Hasil akhir Pepera, masyarakat Papua memilih
bergabung dengan NKRI.
Hal yang samapun berlaku dalam kasus Timor
Timur. Pendapat rakyat atau Referendum di bekas provinsi ke-27 Indonesia itu
dilaksanakan oleh UNTAET di bawah pengawasan langsung PBB. Mayoritas masyarakat
Timor Timur memilih Merdeka dan Indonesia menghormatinya. Rasa hormat yang sama
juga ditunjukan Indonesia dalam kasus Papua, kendati sejak 1 Mei 1963 secara
resmi Papua telah bergabung kembali dengan NKRI, namun Pemerintahan tetap
berada di bawah kendali pemerintahan sementara UNTEA. Secara simbolis hal itu
ditunjukkan dengan pengibaran bendera Merah Putih berdampingan dengan bendera
UNTEA. Baru setelah hasil PEPERA disahkan oleh Majelis Umum PBB dengan Resolusi
No. 2504 tanggal 19 November 1969, bendera UNTEA diturunkan. Ini adalah simbol
bahwa pemerintahan efektif di Papua sejak saat itu telah diserahkan sepenuhnya
oleh PBB kepada Pemerintah Indonesia. Sekalipun Penyelenggaraan Papera itu
sendiri sebenarnya akibat tipudaya dan upaya Belanda memisahkan Papua dari
Indonesia dengan mendeklarasikan Kemerdekaan Papua 1 Desember 1961 (atau 16
tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus
1945 dengan wilayah kedaulatan dari Sabang sampai Merauke).
Integrasi Papua kembali ke pangkuan NKRI,
sudah FINAL. Jika masih ada aktivis Papua Merdeka yang mempersoalkannya, dan
mengatakan bahwa PEPERA ilegal, itu hanya upaya sparatis OPM guna mencari
dukungan masyarakat dengan menutupi fakta sejarah
Segala upaya aktivis OPM hanyalah demi kepentingan pribadi, beberapa oknum yang berdalih memperjuangkan nasib masyarakat Papua dengan berbagai macam cara bahkan sampai keluar negeri justru akan menjerumuskan rakyat Papua ke dalam jurang kehancuran.
Aksi-aksi demonstrasi,
pemogokkan hingga menyerukan perlawanan bersenjata justru akan membawa rakyat
Papua ke titik paling nadir dalam kehidupan mereka, sedangkan para oknum OPM
tersebut tidak merasakan penderitaan yang dialami masyarakat karena mereka
hidup bersenang-senang di luar negeri.
Situasi dan Kondisi Timor Leste saat ini adalah pengalaman
yang berharga buat masyarakat Papua, pasca memisahkan diri dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan menjadi Negara yang
berdiri sendiri kondisinya bukannya semakin membaik tetapi berbalik menjadi
semakin tidak jelas, kondisi perekonomian kian terpuruk, rakyatnya hidup dibawah garis
kemiskinan bahkan menjadi negara termiskin di kawasan Asia, stabilitas keamanan
terganggu dengan berbagai macam pemberontakan serta tingginya angka
kriminalitas sampai saat ini bahkan masih harus berhadapan dengan negara
pendukung saat mengupayakan kemerdekaan Timor Leste yaitu Australia atas pengambil
alihan teluk lautnya yang kaya minyak sebagai balas jasa saat membantu dan mengupayakan
lepas dari NKRI.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar