Ayub Kafiar kelahiran Ambai 3 April 1923, Pelaku Sejarah yang pernah menjadi ajudan Ir Soekarno dan ikut
berjuang dalam pembebasan Irian Barat
Sungguh perbuatan naif dan membodohi masyarakat
khususnya Papua pernyataan para aktivis KNPB bila tidak mengakui para pelaku
sejarah khususnya masyarakat Papua yang telah mengorbankan tenaga, materi
bahkan nyawa untuk melepaskan tanah Papua dari cengkeraman penjajah Kolonial
Belanda. Mereka-mereka baru lahir di bumi Papua setelah kemerdekaan yang
seharusnya mengisi kemerdekaan dengan membangun dan memajukan Papua kearah yang
lebih baik lagi justeru selalu mengusik ketenteraman, berusaha memecah belah
antar suku dan agama yang selama ini hidup rukun dan berdampingan, selalu berusaha memutarbalik fakta sejarah bahkan
berupaya memisahkan Papua dari NKRI dengan berbagai tipu daya dan mengaburkan
sejarah Papua sementara Dunia Internasional sudah mengakui bahwa Integral Papua
kedalam Indonesia adalah sah karena sudah tercatat dan di putuskan PBB.
Sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
dibacakan tanggal 17 Agustus 1945, seluruh pemuda dan masyarakat Indonesia dari
Sabang sampai Merauke mengumandangkan pekik “Merdeka” dan bangkit melawan
penjajahan Belanda dan sisa-sisa tentara Jepang. Setelah Perang Dunia II,
Belanda berusaha menguasai kembali wilayah di Nusantara dengan membentuk
Pemerintahan Hindia Belanda (NICA) dan didukung oleh kekuatan angkatan perang,
KNIL, serta dibantu oleh tentara sekutu.
Memasuki tahun 1946, pergolakan pemuda dan seluruh masyarakat Indonesia melawan tentara Belanda merata di seluruh wilayah Nusantara, yaitu dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil, Maluku dan Irian. Namun, pemerintah RI saat itu tidak cukup memiliki tenaga dan sumber daya untuk memimpin dan mengkoordinasikan seluruh kekuatan pergerakan dan perlawanan di wilayah Nusantara, sehingga perlawanan terkoordinir sebatas tiap-tiap wilayah.
Dengan adanya kebijakan politik dan strategi perang tersebut, otomatis perjuangan para pemuda dan masyarakat di wilayah Papua tidak terpantau dan tidak terkoordinasikan dengan Pemerintah RI di Jawa. Padahal pada tahun 1946 tersebut di Tanah Papua terjadi perlawanan yang cukup hebat terhadap kolonialisme dan upaya pendudukan kembali oleh Pemerintah dan Tentara Belanda. Perlawanan tersebut tercatat terjadi di dua kota, yaitu di Merauke dan Hollandia (Jayapura sekarang).
Pada tanggal 14 Maret 1946 di Merauke terjadi pertempuran hebat antara para pemuda Papua melawan tentara kolonial Belanda. Para pemuda Papua tersebut merupakan mantan Heiho yang telah dididik ilmu kemiliteran oleh Jepang dan telah mengetahui tentang kemerdekaan RI melalui berita radio yang disampaikan oleh Pemerintah RI. Rasa kebangsaan mereka timbul dan bertekad untuk melawan penjajahan serta merebut kemerdekaan yang selama ini diidam-idamkannya. Dengan berbekal rasa nasionalisme, semangat pantang menyerah, serta ditunjang oleh pengalaman kemiliteran, para pemuda Papua di Merauke melakukan perlawanan militer terhadap tentara kolonial Belanda yang berusaha kembali menjajah Tanah Papua. Pertempuran hebat pun berlangsung di kota Merauke dan sekitarnya serta membuat keadaan di kota Merauke cukup mencekam selama tiga hari. Meskipun hanya bersenjatakan seadanya, para pemuda Papua di Merauke berhasil membuat kesulitan pada tentara kolonial Belanda yang bersenjatakan lengkap. Akhirnya, tentara kolonial Belanda berhasil menggagalkan upaya dari para pemuda Papua, dan sebagian besar pemuda Papua tersebut gugur sebagai kusuma bangsa serta sebagian kecil lainnya hilang tak tentu rimbanya.
Perjuangan dan perlawanan para pemuda dan masyarakat Papua di Hollandia (Jayapura sekarang) tergolong lebih sistematis dan terencana. Pada akhir tahun 1945 terjadi pertempuran antara pejuang Papua yang rata-rata berasal dari Digul dengan tentara kolonial Belanda yang dipimpin oleh Sunggoro. Tentara kolonial Belanda berhasil mematahkan perlawanan pejuang Papua tersebut dan menangkap Sunggoro. Walaupun Sunggoro sudah meringkuk dalam penjara Hollandia dan sebagian besar pejuang Digul serta teman-temannya memilih berjuang di daerah RI namun pergolakan rakyat Irian tidak terhenti. Sunggoro dengan S. Papare, Martin Indey dan lain-lainnya mempersiapkan perlawanan untuk yang kedua kalinya terhadap Belanda. Pimpinan umum tetap pada Sunggoro, sehingga markasnya berada di dalam penjara. Betapapun ketatnya penjagaan di penjara, pasukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda dapat juga dipersiapkan bahkan ada beberapa penjaga penjara yang turut serta dalam pasukan perlawanan tersebut. Sebagai Panglima ditunjuk Penggoncang Alam, seorang pejuang asal Minangkabau, sedangkan Martin Indey berhasil mempengaruhi sebagian besar anggota “Batalyon Papua” yang dikepalai oleh Kapten de Bruin. Batalyon Papua tersebut adalah pasukan yang dibentuk oleh Pemerintah Belanda di mana personelnya terdiri dari orang asli Papua dengan tujuan untuk dijadikan pasukan penggempur guna menyerang Pemerintah RI.
Rakyat Papua menghormati dan menjunjung tinggi pemimpin-pemimpin patriotik – nasionalis Indonesia berkat adanya sosialisasi dan upaya yang dilakukan oleh Martin Indey, Papare, Rumkoren, dan lain-lain. Lebih kurang tiga perempat dari jumlah anggota Polisi turut serta dalam pasukan perlawanan. Sekolah Polisi pun sudah mendukung perjuangan yang akan dilakukan pasukan perlawanan. Di kalangan tentara Belanda sendiri (KNIL) ada lebih kurang 30 orang pemuda Menado yang bersedia turut serta. Dengan teliti diaturlah persiapan untuk melucuti KNIL, menangkap pembesar-pembesar Pemerintah Belanda dan menduduki stasiun radio. Pimpinan umum, Sunggoro, sudah memutuskan akan melakukan perlawanan terhadap Belanda pada tanggal 17 Juli 1946. Peluru-peluru sudah dibagikan dan pemuka-pemuka adat Papua serta pemuka masyarakat sudah diberitahu, namun, Belanda berhasil mencium adanya persiapan perlawanan terhadap kekuasaannya dan dilakukanlah razia secara besar-besaran. Akibatnya, terjadilah insiden-insiden perlawanan oleh para pemuda dan masyarakat Papua dalam skala yang kecil dan terbatas. Rencana perlawanan dan insiden tersebut dapat dipatahkan oleh Belanda. Banyak pejuang yang ditangkap. Belanda bertindak pula terhadap “Batalyon Papua”, meskipun Batalyon tersebut sudah sangat berjasa terhadap Belanda maupun tentara sekutu dalam membebaskan Irian dari pendudukan Jepang. Tetapi kini mereka dianggap paling berbahaya oleh pemerintahan Belanda (NICA).
Selanjutnya Belanda melakukan pembersihan di dalam
alat-alat kekuasaannya, yang terbukti memiliki orientasi untuk berjuang bagi
kemerdekaan dan keutuhan wilayah RI. Hanya KNIL-lah yang saat itu menjadi
tulang punggung kekuasaan Belanda di Tanah Papua. Pamongpraja dan Swapraja
Irian pun terbukti tetap menyokong gerakan kemerdekaan Indonesia. S. Papare
dianggap Belanda berbahaya bila berada di Hollandia. Oleh Residen van Eekhout
ia kemudian dipindahkan ke Serui untuk berpraktek sebagai dokter. Pada saat
yang hampir bersamaan, Belanda mengasingkan rombongan Gubernur Ratulangi ke
Serui, dan kejadian ini meninggikan moril pejuang-pejuang Irian di daerah Serui
karena memperoleh bantuan pemikiran dari tokoh-tokoh pejuang yang berpengaruh.
Betapapun Belanda sangat mengucilkan S. Papare dan Gubernur Ratulangi
namun melalui Gereja maupun melalui para pemuda pejuang Papua maka dapat
terbina hubungan antara Papare dkk dengan rombongan Gubernur Ratulangi,
sehingga dapat diatur rencana dan petunjuk-petunjuk politik dalam perjuangan
untuk meraih kemerdekaan dari Pemerintahan Belanda.
Sejak tahun 1946 Marthen Indey menjadi Ketua
Partai Indonesia Merdeka (PIM). Ia lalu memimpin sebuah aksi protes yang
didukung delegasi 12 Kepala Suku terhadap keinginan Belanda yang ingin
memisahkan Papua dari Indonesia. Indey juga mulai terang-terangan menghimbau
anggota militer yang bukan orang Belanda agar melancarkan perlawanan terhadap
Belanda.
Akibat aktivitas politiknya yang kian berani ini, pemerintah Belanda menangkap
dan memenjarakan Indey. Tahun 1962, saat Marthen Indey tak lagi dipenjara, ia menyusun
kekuatan gerilya sambil menunggu kedatangan tentara Indonesia yang akan
diterjunkan ke Papua dalam rangka operasi Trikora. Saat perang usai, ia
berangkat ke New York untuk memperjuangkan masuknya Papua ke wilayah Indonesia,
di PBB hingga akhirnya Papua (Irian) benar-benar menjadi bagian Republik
Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar