Elite
Politik kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) tak pernah bosan
membohongi masyarakat khususnya Papua dan memberi harapan semu kepada para
pendukungnya dengan mengarang berbagai cerita dan memanpaatkan berbagai momen yang sedang terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri guna mencari
simpatik dan kepercayaan dari para pendukungnya.
Seperti pada
beberapa bulan lalu OPM menyebutkan bahwa telah mengirimkan sebuah laporan
resmi terkait pelanggaran HAM berat yang dilakukan Indonesia di Papua, kepada
PBB. Namun, hal ini dengan tegas dibantah oleh PBB dengan menyebutkan tak
pernah ada satu lembarpun laporan yang dikirimkam terkait pelanggaran HAM di
Papua kepada mereka.
Juru bicara
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Stephane Dujarric menyatakan pihaknya tidak
pernah menerima dokumen mengenai laporan hak asasi manusia (HAM) dari kelompok OPM.
Hal itu disampaikan Dujarric dalam press briefing di markas PBB di New York,
Rabu 1 Juni 2016.
Pernyataan
jubir PBB tersebut disampaikan terkait informasi yang beredar yang mengklaim
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon telah menerima laporan pelanggaran
HAM di Papua dari perwakilan OPM. Informasi
yang beredar Dokumen tersebut dilaporkan diserahkan Ketua Asosiasi Lembaga
Non-Pemerintah Kepulauan Pasifik (PIANGO) Emele Duituturaga kepada Sekjen Ban
Ki-moon pada kesempatan World Humanitarian Summit yang berlangsung pada 23
sampai 24 Mei di Istanbul, Turki.
Dujarric
juga mengklarifikasi bahwa Sekjen PBB tidak pernah melakukan atau mengagendakan
pertemuan dengan perwakilan Papua Barat dalam KTT di Turki seperti yang
diinformasikan oleh OPM tersebut.
Pada bulan
lalu OPM juga kembali membuat ulah dengan memanpaatkan moment keagamaan,
kedatangan Ahok Cahyapurnama yang merayakan Natal bersama masyarakat Papua,
telah dimanpaatkan oleh OPM dengan memasang spanduk seolah-olah kedatangan
mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut adalah bagian daripada dukungan kepada
OPM. Sejumlah tokoh adat, tokoh
agama dan mayoritas masyarakat Papua yang menghadiri kegiatan menyayangkan
tindakan tersebut. Acara yang seharusnya penuh dengan suasana keagamaan telah
dikotori oleh OPM dengan kepentingan politik mereka, segala tindakan baik
propaganda dan agitasi untuk merusak citra Indonesia di mata dunia dan mencari
dukungan masyarakat khususnya Papua selalu dilakukan.
Dengan
bantuan dan sokongan dana dari sejumlah negara Barat yang menginginkan Papua
lepas dari kedaulatan Indonesia, menjadikan masalah HAM sebagai senjata ampuh
mereka dalam menarik simpati dunia, isu bahwa pemerintah Indonesia menurut
mereka telah melakukan pembantaian di Papua dengan korban hingga ratusan ribu,
selain itu Pemerintah Indonesia juga dituduh melakukan politik isolasi dengan
menghalangi pers mengunjungi Papua. Tapi semua tuduhan tersebut hingga kini tak
pernah terbukti satupun. Sejumlah negara yang penasaran dengan kondisi Papua
bahkan telah melakukan kunjungan ke Papua.
Segala tindakan
para aktivis OPM baik TPNOPM ataupun para elite politik KNPB tidak berupaya memajukan
dan menunjang pembangunan, justeru lebih cenderung sebagai kelompok penghambat
pembangunan di Papua dengan berbagai isu, propaganda bahkan terror dan gangguan
keamanan serta pemecah persatuan antar suku dan agama di Papua yang selama ini
hidup rukun dan berdampingan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar