Timor Leste adalah sebuah negara
kecil di sebelah utara Australia dan bagian timur pulau Timor, wilayah ini dulu
dikenal dengan nama Timor Timur dan merupakan Provinsi ke-27 NKRI, setelah
lepas dari Portugis daerah ini bergabung dengan Indonesia pada tahun 1975.
Bermula dari perang saudara sampai bergabung dengan Indonesia dimana dari 5
partai yang ada (Fretelin, UDT Adeti, , KOTA,dan Trabalista), 4 partai menyatakan
bergabung dengan Indonesia sementara 1 Partai (Fretelin) menolak dan
memproklamasikan kemerdekaan Timor Leste menjadi sebuah negara sekalipun di
tentang mayoritas masyarakat saat itu, partai Fretelin inilah yang kemudian
muncul sebagai gerakan separatis dan tetap menghendaki pemisahan untuk
berdiri sebagai sebuah negara. Dengan berjalannya
waktu dan adanya campur tangan Australia dengan bantuan dan usaha lewat
Referendum pada tahun 1999, sehingga pada tanggal 20 Mei 2002 Timor Timur resmi
lepas dari NKRI dan berdiri menjadi sebuah negara dan berganti nama Timor
Leste.
Setelah menjadi negara berdaulat,
Timor Leste justeru menjadi tidak stabil, untuk memenuhi kebutuhan pangan,
sandang dan papan masyarakat dilakukan secara terbatas, dari tahun ke tahun
jumlah tenaga kerja semakin meningkat sementara lapangan pekerjaan yang mampu
menyerap sangat minim, anak-anak tidak memperoleh pendidikan yang berkualitas
di akibatkan tingginya angka kemisknan masyarakat menyebabkan semakin banyaknya
pengangguran dan rendahnya SDM generasi muda sebagai penerus bangsa, kesulitan
dalam biaya dan sarana serta akses pelayanan publik seperti kesehatan, jaminan
sosial dan lain-lain serta menguatnya arus urbanisasi dari daerah ke kota
menyebabkan perekonomian negara Timor Leste semakin memburuk dan oleh bank
dunia, Timor Leste dikelompokan kedalam negara yang perekonomian menengah
kebawah dengan menyandang predikat negara termiskin di Asia dan salah satu
negara termiskin di dunia seperti negara Kepulauan Solomon.
Rumah sakit peninggalan Pemerintah
Indonesia di Bidau tidak bisa melakukan pelayanan secara optimal hal ini di
karenakan minimnya tenaga dokter dan tidak jarang masyarakat berobat ke Kupang
(NTT) itupun hanya bagi keluarga mampu mengingat besarnya biaya yang mesti
dikeluarkan. Banyak
warga Timor Leste yang ingin keluar menuju Atambua, tetapi terbatas oleh
penjagaan yang kian ketat di daerah perbatasan, demikian juga pengusaha dari
Atambua ke Dili kian jarang karena mereka takut tidak terjamin keamanannya.
Kemerdekaan Timor Leste hanya
dinikmati kelompok tertentu saja, sementara kehidupan mayoritas masyarakat yang
tersebar di berbagai pelosok desa kian menderita, ketidakstabilan keamanan
terjadi dimana-mana sehingga masyarakat merasakan hidup tidak aman di negaranya
sendiri, karena pertikaian antara kelompok khususnya masyarakat Timor Leste
bagian Timur dengan masyarakat Timor Leste bagian
Barat. Kondisi
kehidupan yang kian sulit itu menyebabkan sebagian besar masyarakat Timor Leste
sering mengungkapkan rasa penyesalan berpisah dengan NKRI, karena di masa
integrasi masyarakat Timor Leste memiliki kehidupan yang lebih baik, padahal
tujuan mereka merdeka sebelumnya agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik
dibanding sebelumnya.
Kondisi masyarakat Timor Leste
setelah merdeka dibandingkan saat menjadi bagian integral NKRI, sangatlah lebih
memprihatinkan, belum ada perubahan pembangunan yang dilakukan pemerintahan
terkait bangunan-bangunan yang terbakar di masa jajak pendapat tahun 1999,
janji kemakmuran dan kesejahteraan seluruh masyarakat serta kemajuan
pembangunan yang pesat sebagai sebuah negara yang berdiri sendiri oleh para
elite politik belum bisa di wujudkan dan hanya sebuah angan, bangunan
peninggalan orang-orang Indonesia setelah jejak pendapat hingga kini masih
tampak jelas, tidak ada upaya rehabilitasi, bahkan situasi semakin kacau saat
terjadi konflik hingga lengsernya Perdana Menteri Mari Al-Katiri beberapa tahun
lalu, banyak bangunan yang dibakar sehingga suasana kota Dili kian mencekam
mengakibatkan banyak pengusaha yang datang dari negara lain khususnya Indonesia
terpaksa meninggalkan kota-kota di Timor Leste, karena sudah tidak tahan,
selain mengalami kerugian besar karena tempat usahanya banyak yang dijarah pada
saat kerusuhan, merekapun tidak tahan menghadapi ganasnya pertikaian antar kelompok.
Selain kemiskinan, perang juga
menjadi persoalan tersendiri bagi Timor Leste. Setelah lepas dari Indonesia,
Timor Leste tak pernah sepi dari gejolak, konflik perang saudara lebih sadis
dibanding saat jajak pendapat tahun 1999, membunuh sesama warga Timor Leste
yang berbeda kelompok kerap terjadi, bahkan wanita hamilpun tidak segan-segan
dibunuh.
Setelah 17 tahun merdeka, rakyat
Timor Leste menyadari bahwa bantuan dan usaha sang tetangga seperti Australia
bukan untuk menyejahterakan mereka, melainkan strategi untuk menguasai sumber
daya alam Timor Leste, dimana Pada saat masyarakat yang mendukung lepasnya
Timor Leste dari NKRI larut dalam keadaan euforia merayakan kemerdekaan dan
menganggap Australia sebagai dewa penolong dalam mewujudkan mimpi kemerdekaan
pada tanggal 20 Mei 2002, tanpa di sadari Australia punya motif terselubung
dibalik usahanya membantu selama ini, tepat di hari kemerdekaan Timor Leste,
Australia telah menancapkan cengkeraman di celah Timor laut dalam, antara Pulau
Timor dan Australia yang kaya cadangan minyak melimpah di Celah Timor. Sudah
menjadi rahasia umum lepasnya Timor Leste (Timor Timur) dari wilayah NKRI
karena adanya campur tangan Australia. Hal ini pernah diakui
oleh mantan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao Pada sebuah kesempatan,
yang mengatakan bahwa Australia ada di balik lepasnya Timor Timur dari
Indonesia.
Masyarakat Timor Leste baru
menyadari bahwa selama ini hanya jadi sapi perahan Australia dan beberapa bulan
lalu menimbulkan gejolak di Timor Leste, dulu Australia dianggap bidan yang
telah berjasa membantu kelahiran Timor Leste tetapi saat ini dipandang tak
lebih sebagai penjajah yang menyengsarakan rakyat dan puncaknya Rakyat Timor
Leste menggelar unjuk rasa besar-besaran pada beberapa bulan lalu. Demonstrasi
yang diikuti berbagai kalangan tersebut merupakan aksi rakyat terbesar sejak
Timor Leste melepaskan diri dari Indonesia pada 1999. Lebih dari 10.000 orang
mengepung Kedutaan Besar Australia di Dili untuk memprotes penolakan
Australia bernegosiasi dengan Timor Timur mengenai perbatasan Laut Timor yang
kaya minyak dan gas. Belum juga selesai masalah perekonomian negara yang tidak
kunjung membaik, kini Timur Leste menghadapi sebuah permasalahan baru yaitu
penjajahan laut yang dilakukan oleh Australia.
Sengketa dengan Australia di Celah
Timor memunculkan kenangan manis masyarakat Timor Leste saat bulan madu dengan
Indonesia, banyak rakyat Timor Leste yang merasa gelontoran rupiah di era Timor
Timur sebagai wilayah NKRI lebih banyak dinikmati, ketimbang dolar dari Celah
Timor yang hingga kini hanya sebatas
angan. Kejadian Timor Leste
adalah pengalaman yang sangat berharga khususnya bagi masyarakat Papua,
Organisasi Papua Merdeka baik Politik maupun Bersenjata adalah biang
terhambatnya segala pembangunan di Papua dengan segala upaya propaganda dan
intimidasi bahkan terror di masyarakat tanpa adanya upaya membangun Papua
begitu juga dengan dukungan negara-negara miskin seperti Kepulauan Solomon,
Vanute dan lain-lain tidak menutup kemungkinan hal ini dilakukan demi sebuah
harapan keuntungan bagi negara tersebut kelak bila Papua lepas dari Indonesia
karena mereka akan menuntut dan merujuk pada kesamaan ras melanesia yang lebih
mementingkan kepemilikan bersama dengan memakai sistem ideologi sosialisme
untuk saling mendukung roda perekonomian negara-negara yang pernah mendukung
OPM, namun ambisi untuk melepaskan Papua dari Indonesia adalah sia-sia karena
Papua sudah merdeka dan hidup di negara sendiri yaitu Indonesia dan Integral
Papua kedalam NKRI adalah sah karena sudah diakui PBB dan dunia Internasional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar