Keseriusan Pemerintahan Jokowi-JK dalam membangun
Papua tidak perlu diragukan lagi, dalam kunjungannya ke Papua dan Papua Barat
belum lama ini, Jokowi menerapkan politik satu harga BBM secara nasional,
sehingga harga BBM di Papua dan Papua Barat sama dengan daerah lainnya. Kebijakan ekonomi dan infrastruktur
yang dilaksanakan Jokowi-JK dipacu karena Papua menjadi daerah produksi:
mendirikan pabrik semen, mendirikan pasar, membangun lumbung pangan, dll serta
pemerintah ingin ada keterhubungan antar daerah melalui jalan, pelabuhan, kabel
optik (telekomunikasi), dan kereta api.
Terkait
jalur kereta api, hal ini juga pernah disampaikan oleh Direktur
Jenderal Perkeretaapian Hermanto Dwi Atmoko pada bulan April 2016 bahwa Papua akan
memiliki jalur kereta peluru sendiri, jalur kereta api berkecepatan tinggi yang
mampu menjalankan kereta ekspres pada kecepatan maksimum hingga 250 kilometer
per jam, Kereta yang digunakan akan mampu membawa beban yang lebih besar, mirip
dengan yang dimaksudkan untuk digunakan di Sulawesi dan Kalimantan, dan
berjalan lebih cepat daripada kereta di Jawa dan Sumatera. Rencana tersebut disampaikan setelah pertemuannya dengan Wagub Papua Barat Irene Manibuy, bahwa fase pertama dan kedua pembangunan akan berlangsung antara 2016-2019, pembangunan jalur kereta api dari Manokwari ke Sorong sepanjang 390 Kilometer, proyek ini diharapkan bisa dimulai tahun ini.
Sedangkan kebijakan Polkam terkait Papua yang sudah
dilaksanakan Jokowi-JK antara lain pemberian grasi, membuka akses bagi jurnalis
internasional serta membentuk tim investigasi kasus Paniai.
Bagaimanapun juga, makna kebijakan Jokowi kepada Papua
dan Papua Barat memiliki arti penting antara lain
1. Secara
simbolik melambangkan komitmen politik Presiden untuk selesaikan
persoalan-persoalan terkait Papua.
2. Kunjungan
Jokowi ke Papua bertemu dan berbicara dengan masyarakat “siap berdialog” dengan
siapapun termasuk OPM.
3. Mengadakan
explorative meeting yang diinisiasi oleh Setwapres, dan kita mengadakan
pertemuan antara wakil-wakil pemerintah dan orang Papua dengan tujuan membangun
komunikasi.
Irjen Pol Paulus Waterpauw dalam sebuah seminar di
LIPI Jakarta mengatakan, kondisi Papua masih aman dan damai-damai. Sebagai
Kapolda Papua, sudah dikeluarkan maklumat bahwa siapapun berhak menyampaikan pendapat
dimuka umum tetapi harus tetap menjaga keutuhan dan persatuan negara Republik
Indonesia tapi apabila tidak bisa menjaga hal itu, maka aparatur negara akan
mengambil tindakan tegas. Saat ini beberapa kabupaten kota yang terisolir sudah
bisa kemana-mana karena berjalannya pembangunan.
Adanya pihak yang mengambil kesempatan dengan memutar
balik fakta sebagai contoh dengan memanfaatkan foto korban saat terjadi
kecelakaan lalu lintas yang meninggal dunia dengan menyebar isu bahwa telah
terjadi pembunuhan terhadap orang asli Papua ini adalah ulah para sparatis yang
sengaja mengkotak-kotakkan agar terjadi benturan antar suku yang selama ini
hidup rukun di masyarakat.
Adanya anggapan berbagai pihak terkait kunjungan
terakhir Presiden Jokowi ke Papua justru menunjukkan kebijakan pemerintah yang
cenderung fokus pada kepentingan seremonial pada pembangunan infrastruktur,
adalah tidak benar sebab selain infrastruktur, Presiden Jokowi sangat concern
pada pembangunan di tingkat pendidikan, kesehatan dll. Oleh karena itu,
Presiden telah memberikan perintah untuk melakukan evaluasi terhadap situasi
pembangunan dan keamanan di Papua.
Berdasarkan catatan, saat Wiranto dan Luhut sebagai
Menko Polhukam mengunjungi Papua, mereka mengajak 28 orang profesor
Amerika untuk membahas mengenai pembangunan pendidikan di Papua, ini
salah satu contoh program nyata, serta di bidang kesehatan telah disetujui Rp
226 Miliar untuk meningkatkan standar rumah sakit di Papua menjadi standar
nasional.
Mengenai isu pelanggaran HAM, Kemenko Polhukam telah
membentuk tim penanganan pelanggaram HAM di Papua dan Papua Barat, dianggap
tidak kredibel, padahal dalam tim tersebut ada dari Komnas HAM, aktivis
HAM Papua, kejaksaan Papua dll. Bahkan, pemerintah sangat transparan
dalam penyelesaian HAM di Papua, karena sudah mengundang perwakilan dari
Australia, New Zaeland, Fiji dll untuk menyaksikan proses
penyelesaian masalah HAM di Papua. Sedangkan, dalam kasus Paniai, belum dapat terlaksana
pembentukan timnya karena para keluarga korban kasus Paniai menolak adanya
proses otopsi pada korban kasus Paniai.
Menurut salah satu aktivis di Papua, dahulu OPM
terpecah dalam berbagai macam faksi-faksi, tapi sekarang mereka membentuk
ULMWP. Menurutnya, ada perubahan di Jakarta sejak terpilihnya Jokowi sebagai
presiden, dan masyarakat Papua mengetahui Jokowi adalah tipe orang yang
menyelesaikan masalah dengan dialog bukan dengan kekerasan.
Sementara, salah satu tokoh aktivis LSM di Manokwari
menyatakan, langkah awal mencari solusi damai semakin terbuka, karena situasi
politik yang berubah, baik Indonesia maupun Papua. Menurutnya, ada
perhatian pemerintah Indonesia untuk mencari solusi terhadap penyelesaian
masalah HAM di Papua. Kelemahan UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
yang memuat hukum acaranya sendiri diluar KUHAP, dan itu penting untuk
didiskusikan. Menurutnya, dialog merupakan suatu model pendekatan dan strategi
penyelesaian masalah masalah di tanah Papua dulu, sekarang dan di masa
depan.
Itikad dan niat pemerintahan Jokowi-JK untuk membangun
Papua tidak perlu diragukan lagi, sehingga masyarakat Papua harus mengubur
jauh-jauh keinginan referendum yang sejauh ini disuarakan ULMWP, KNPB dan PRD
maupun AMP. Dialog pemerintah pusat dengan masyarakat Papua boleh
saja dilaksanakan, namun bukan dalam artian untuk menyelesaikan atau menuntut
penyelesaian Papua secara referendum apalagi ada keterlibatan asing karena
integral Papua bagian NKRI adalah sah menurut hukum Internasional dan PBB.
Kesadaran seluruh masyarakat Papua sangat diharapkan
terutama generasi mudanya agar terlibat langsung dalam pembangunan ekonomi,
pendidikan, dan sosial yang gencar dilakukan Pemerintah. Masyarakat Papua harus
yakin bahwa pemerintahan sangat peduli dengan Papua dan Papua Barat. Jadi,
jangan mudah diprovokasi oleh organisasi papua merdeka yang imbasnya akan
merugikan seluruh masyarakat Papua sendiri.
http://free-west-papua-new.blogspot.co.id/2016/10/euforia-kemerdekaan-timor-leste-sebagai.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar